Oleh Amirullah Syahruddin
(Eks Penggiat Budaya Kemendikbud Ristek RI)
Selama puluhan tahun, sejarah Indonesia terus-menerus mengulang narasi bahwa Jambi merupakan pusat Kerajaan Melayu sejak abad ke-7. Narasi ini menyebar dari buku pelajaran, jurnal populer, hingga media arus utama. Namun, kajian terbaru berbasis naskah kuno, arkeologi, dan tradisi lokal membuktikan bahwa klaim ini tidak sesuai fakta sejarah.
Faktanya, wilayah daratan Jambi dan Riau justru merupakan bagian dari sistem besar yang disebut Kedatuan Sriwijaya, dan bukan pusat kebudayaan Melayu. Kedatuan ini berakar kuat di kawasan Sumatera Tengah, terutama Muaratakus, yang kini terletak di Kabupaten Kampar, Riau.
Sriwijaya Bukan Kerajaan, Melainkan Kedatuan Berbasis Matrilineal
Kedatuan Sriwijaya bukan kerajaan tunggal seperti yang dibayangkan orang selama ini, melainkan sistem politik berbasis kedatuan yaitu aliansi antar kelompok adat yang memiliki ikatan spiritual, ekonomi, dan budaya.
Yang kerap luput dari pembacaan sejarah adalah bahwa Sumatera Tengah yakni wilayah yang kini menjadi Riau, Jambi, dan Sumatera Barat adalah kawasan inti masyarakat matrilineal. Dalam sistem ini, kaum ibu atau perempuan adalah pusat garis keturunan dan pewaris struktur sosial, termasuk kepemimpinan dalam kedatuan.
Maka tak heran, pusat-pusat kedatuan seperti Sriwijaya tumbuh dari struktur sosial kaum ibu, yang lebih stabil dan berakar kuat di komunitas lokal.
Muaratakus: Pusat Kedatuan, Bukan Jambi atau Palembang
Situs arkeologi Kompleks Candi Muaratakus memberikan petunjuk kuat tentang keberadaan pusat Sriwijaya di Sumatera Tengah. Dengan bahan bangunan dari tanah liat khas Bukit Barisan dan struktur mandala yang khas, Muaratakus memperlihatkan kompleksitas spiritual dan politik pada masa itu.
Sementara itu, Jambi dan Riau darat hanya menjadi wilayah satelit atau bagian dari jaringan kedatuan tersebut, bukan pusatnya. Narasi lama yang menyebut Jambi sebagai pusat Kerajaan Melayu tidak memiliki dasar tekstual atau arkeologis yang kuat.
Puti Pinang Masak dan Ekspansi Sriwijaya ke Jambi
Tradisi lisan di Jambi menyebut tokoh Puti Pinang Masak, seorang bangsawan perempuan dari Muaratakus yang dikirim untuk membentuk struktur kekuasaan di hulu Batanghari. Ini memperkuat bukti bahwa Jambi merupakan perluasan dari pusat matrilineal Sumatera Tengah, bukan muncul sebagai pusat kekuasaan tersendiri.
Tokoh-tokoh seperti Puti Pinang Masak menjadi penghubung antara pusat dan wilayah periferi, sesuai pola ekspansi kedatuan yang tidak menaklukkan, tetapi mengikat melalui adat, perkawinan, dan spiritualitas.
Naskah Tanjung Tanah: Tak Ada Kata “Melayu”
Undang-Undang Tanjung Tanah, naskah hukum adat tertua dari Jambi, ditulis dengan aksara Palawa, bukan aksara Melayu Kuno. Lebih penting lagi, tidak satu pun bagian naskah tersebut menyebut istilah “Melayu.”
Ini membuktikan bahwa istilah dan identitas “Melayu” belum digunakan di wilayah Sumatera Tengah pada masa itu. Identitas Melayu baru berkembang belakangan, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan, setelah pengaruh Islam dan perdagangan maritim menguat.
Candi di Jambi dan Muaratakus: Satu Jejak, Satu Akar
Situs percandian di Jambi dan Muaratakus memiliki kesamaan struktur dan bahan bangunan terutama tanah liat dari dataran tinggi Bukit Barisan. Ini menunjukkan satu kesatuan jaringan distribusi spiritual dan politik yang berakar di pedalaman, bukan pesisir.
Dengan kata lain, identitas Sriwijaya dan kedatuan matrilineal Sumatera Tengah tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial kaum ibu. Perempuan dalam sistem ini bukan hanya pewaris adat, tetapi juga penjaga kesinambungan kekuasaan.
Kesimpulan: Melayu Adalah Fenomena Belakangan, Bukan Awal
Saat ini, kita perlu meluruskan narasi sejarah. Jambi dan Riau darat bukanlah pusat Melayu, melainkan bagian dari sistem kedatuan matrilineal yang membentuk Sriwijaya — sebuah kekuatan politik yang berakar dalam spiritualitas dan adat perempuan.
Dengan membaca ulang sejarah melalui sumber yang benar, kita tidak sekadar merevisi catatan lama, tetapi menghargai peradaban Sumatera Tengah yang selama ini tertutupi oleh mitos dan tafsir kolonial.
Tentang Penulis:
Amirullah Syahruddin adalah pemerhati sejarah dan budaya Sumatera Tengah. Ia pernah aktif sebagai penggiat budaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan kini fokus pada riset sejarah berbasis komunitas di Riau, Jambi, dan Sumatera Barat.





