Aura Farming vs Aura Framing

Penulis: Amirullah Syahruddin (eks penggiat budaya Kemendikbud Ristek RI/ ketua yayasan Matankari Nusantara/ alumni Universitas Riau)

Membaca Ulang Pacu Jalur: Dari Akar Adat ke Sorotan Kamera

Framing: Membingkai untuk Mengendalikan Makna

Framing adalah teknik untuk memanipulasi persepsi audiens dengan cara membingkai informasi melalui pemilihan kata, gambar, dan konteks. Dalam dunia kebudayaan, framing bisa mengangkat satu versi narasi sebagai “resmi”, sekaligus mengaburkan makna asal suatu budaya.

Di Riau, framing ini sering bekerja untuk menggiring narasi budaya matrilineal menjadi patrilineal, termasuk dalam cara kita memaknai Pacu Jalur dan identitas visual “Melayu” itu sendiri.

Pacu Jalur dan Warisan Matrilineal yang Digeser Framing

Pacu Jalur berasal dari masyarakat Kuantan Singingi, bagian dari kawasan budaya Sumatera Tengah yang bercorak matrilineal. Dalam sistem ini:
• Jalur adalah milik kolektif kaum ibu (suku).
• Persiapannya dikoordinasi oleh struktur adat matrilineal.
• Lomba ini merefleksikan kekuatan solidaritas kampung, bukan kompetisi antar individu atau simbol kejantanan.

Namun, framing budaya oleh lembaga atau kekuasaan tertentu mencoba menampilkan Pacu Jalur sebagai warisan budaya Melayu yang patrilineal — dengan narasi yang mengedepankan tokoh lelaki (raja, datuk, pejabat), mengganti makna gotong royong kaum ibu menjadi sekadar lomba antar tim.

Simbol Melayu: Pakaian, Tapi Bukan Asalnya

Framing juga terjadi lewat simbol visual, seperti pakaian adat Melayu.
Banyak peserta dan panitia Pacu Jalur kini tampil dengan busana “Melayu lengkap”: tanjak, baju kurung, kain songket, dan selempang — seolah-olah itu simbol eksklusif budaya Melayu patrilineal.

Padahal:
• Baju kurung, songket, dan sebagian besar busana tradisi itu adalah warisan budaya matrilineal yang diwariskan antar kaum ibu.
• Pakaian adat itu menyimpan jejak nilai, bukan sekadar estetika — misalnya, corak songket menyimpan simbol suku, pohon silsilah ibu, atau status adat dalam komunitas matrilineal.

Kini, pakaian itu jadi tren. Dipakai karena “terlihat Melayu”, bukan karena dimengerti maknanya.
Begitulah budaya yang menyesuaikan diri dengan zaman, tetapi sering dikemas oleh politik budaya lain — dalam hal ini, narasi patrilineal yang bekerja secara masif dan sistematis, merebut ruang budaya ibu.

Aura Farming: Menumbuhkan Budaya dari Dalam

Sebaliknya, aura farming adalah praktik yang merawat makna.
Ia menyirami akar budaya dengan:
• Pengetahuan sejarah yang jujur.
• Keterlibatan tokoh adat, kaum ibu, dan komunitas kampung.
• Penolakan terhadap pelabelan yang mereduksi budaya menjadi tontonan atau komoditas.

Aura farming berarti menghidupkan kembali pakaian sebagai penanda identitas kaum, bukan sekadar kostum panggung.
Menghidupkan kembali jalur sebagai marwah kampung, bukan sekadar lomba tahunan.

Kita Mau yang Mana?
• Mau dayung budaya yang jujur, atau hanya mendayung demi panggung?
• Mau memakai busana dengan makna, atau hanya ikut tren agar terlihat dan dipaksa karena nama Riau tempat bertenggernya “Melayu”?

Budaya ibu di Riau darat ini bukan mati — ia hanya sedang dibingkai ulang.
Kini saatnya kita membuka kembali bingkai itu, dan melihat wajah asli budaya dari kaca mata sejarah, bukan kamera promosi budaya yang memframingnya.

Penulis: Amirullah Syahruddin (eks penggiat budaya Kemendikbud Ristek RI/ ketua yayasan Matankari Nusantara/ alumni Universitas Riau)

Membaca Ulang Pacu Jalur: Dari Akar Adat ke Sorotan Kamera

Framing: Membingkai untuk Mengendalikan Makna

Framing adalah teknik untuk memanipulasi persepsi audiens dengan cara membingkai informasi melalui pemilihan kata, gambar, dan konteks. Dalam dunia kebudayaan, framing bisa mengangkat satu versi narasi sebagai “resmi”, sekaligus mengaburkan makna asal suatu budaya.

Di Riau, framing ini sering bekerja untuk menggiring narasi budaya matrilineal menjadi patrilineal, termasuk dalam cara kita memaknai Pacu Jalur dan identitas visual “Melayu” itu sendiri.

Pacu Jalur dan Warisan Matrilineal yang Digeser Framing

Pacu Jalur berasal dari masyarakat Kuantan Singingi, bagian dari kawasan budaya Sumatera Tengah yang bercorak matrilineal. Dalam sistem ini:
• Jalur adalah milik kolektif kaum ibu (suku).
• Persiapannya dikoordinasi oleh struktur adat matrilineal.
• Lomba ini merefleksikan kekuatan solidaritas kampung, bukan kompetisi antar individu atau simbol kejantanan.

Namun, framing budaya oleh lembaga atau kekuasaan tertentu mencoba menampilkan Pacu Jalur sebagai warisan budaya Melayu yang patrilineal — dengan narasi yang mengedepankan tokoh lelaki (raja, datuk, pejabat), mengganti makna gotong royong kaum ibu menjadi sekadar lomba antar tim.

Simbol Melayu: Pakaian, Tapi Bukan Asalnya

Framing juga terjadi lewat simbol visual, seperti pakaian adat Melayu.
Banyak peserta dan panitia Pacu Jalur kini tampil dengan busana “Melayu lengkap”: tanjak, baju kurung, kain songket, dan selempang  seolah-olah itu simbol eksklusif budaya Melayu patrilineal.

Padahal:
• Baju kurung, songket, dan sebagian besar busana tradisi itu adalah warisan budaya matrilineal yang diwariskan antar kaum ibu.
• Pakaian adat itu menyimpan jejak nilai, bukan sekadar estetika  misalnya, corak songket menyimpan simbol suku, pohon silsilah ibu, atau status adat dalam komunitas matrilineal.

Kini, pakaian itu jadi tren. Dipakai karena “terlihat Melayu”, bukan karena dimengerti maknanya.
Begitulah budaya yang menyesuaikan diri dengan zaman, tetapi sering dikemas oleh politik budaya lain — dalam hal ini, narasi patrilineal yang bekerja secara masif dan sistematis, merebut ruang budaya ibu.

Aura Farming: Menumbuhkan Budaya dari Dalam

Sebaliknya, aura farming adalah praktik yang merawat makna.
Ia menyirami akar budaya dengan:
• Pengetahuan sejarah yang jujur.
• Keterlibatan tokoh adat, kaum ibu, dan komunitas kampung.
• Penolakan terhadap pelabelan yang mereduksi budaya menjadi tontonan atau komoditas.

Aura farming berarti menghidupkan kembali pakaian sebagai penanda identitas kaum, bukan sekadar kostum panggung.
Menghidupkan kembali jalur sebagai marwah kampung, bukan sekadar lomba tahunan.

Kita Mau yang Mana?
• Mau dayung budaya yang jujur, atau hanya mendayung demi panggung?
• Mau memakai busana dengan makna, atau hanya ikut tren agar terlihat dan dipaksa karena nama Riau tempat bertenggernya “Melayu”?

Budaya ibu di Riau darat ini bukan mati ia hanya sedang dibingkai ulang.
Kini saatnya kita membuka kembali bingkai itu, dan melihat wajah asli budaya dari kaca mata sejarah, bukan kamera promosi budaya yang memframingnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *