Ekspor Dilarang Tapi Harga Minyak Goreng di Pekanbaru Masih Tinggi

  • Whatsapp
ilustrasi Migor/Net

PEKANBARU (Beritadigi.com)- Pemerintah telah resmi melarang ekspor bahan baku minyak goreng berupa minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan seluruh produk turunannya sejak 28 April 2022 lalu.

Namun kebijakan yang sudah diterapkan selama 2 pekan tersebut tersebut ternyata tidak berpengaruh terhadap penurunan harga minyak goreng, padahal pelarangan ekspor CPO tersebut dimaksudkan agar harga minyak goreng yang melambung tinggi bisa turun dan normal seperti sedia kala. Dan bukannya harga minyak goreng yang turun, justru yang merosot adalah harga kelapa sawit.

Pantauan di Pasar Buah Jalan Tuanku Tambusai, harga minyak goreng masih sangat tinggi. Untuk harga minyak goreng dengan merek Rose Brand harganya Rp46.800 perdualiter. Kemudian harga minyak goreng merek Sinolin dengan harga Rp44.900 perdualiter, merek Permata Rp44.500 perdualiter, minyak goreng Siip Rp43.900 perliter, minyak goreng Parveen Rp43.800 perdualiter.

Selanjutnya untuk harga minyak goreng dengan merek Sovia dijual dengan harga Rp23.200 perliternya dan merek Mitra dengan harga Rp23.000 perliternya.

Kondisi seperti ini tentu dikeluhkan masyarakat. Di saat ada kebijakan yang diharapkan membawa perubahan untuk penurunan harga minyak goreng, namun ternyata tidak ada pengaruhnya sama sekali.

“Minyak goreng masih sangat mahal, tak ada turun. Untuk apa kebijakan dibuat kalau tak ada gunanya,” ujar Salma, warga Panam, Pekanbaru, Senin (16/5/2022), dikutip dari cakaplah.

Ia mengatakan dirinya kini memang harus mengurangi masak dengan menggunakan minyak. Hal ini dilakukan untuk menghemat agar tidak terlalu sering membeli minyak goreng.

“Kalau dulu memang lumayan seringlah bikin gorengan-gorengan sore untuk cemilan di rumah, sekarang ya tidak sesering dulu. Untuk masak juga kita milih untuk tidak terlalu banyak menggunakan minyak. Mungkin bagi orang lain biasa, cuma kenaikan ini sangat kami rasakanlah bagi ibu rumah tangga yang mendapatkan jatah masak dari suami kan. Harus pandai-pandai mengatur keuangan,” Cakapnya.

Pengusaha gorengan Ayu mengatakan saat ini dirinya terpaksa harus mengurangi ukuran gorengan yang dijualnya, karena jika harus menaikkan harga sepertinya akan sangat susah. Ditakutkan pelanggannya kabur semua.

“Kebetulan kan jualannya kita ini di perumahan ya. Kemarin saja sempat ada yang ngomong kenapa ukuran gorengannya kecil. Ya saya jelaskan saja dengan apa adanya. Karena memang harga minyak goreng sekarang mahal banget. Saya juga nggak tau ini apa tetap bisa jualan kalau kondisi tak berubah,” cakapnya.

Menyiasati hal tersebut, dirinya sekarang juga beralih ke jualan lainnya. Beberapa menu yang tidak terlalu banyak menggunakan minyak goreng, seperti kue-kue basah dan lainnya.

“Mudah-mudahan segera turun lagilah harga minyak goreng ini. Gawat kalau lama-lama,” imbuhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.