Oleh: Amirullah Syahruddin (Kepala Perpustakaan Ar-Raafi SMAN 18 Pekanbaru)
Masyarakat Indonesia kini nyaris bebas dari buta huruf. Data tahun 2025 menunjukkan bahwa hanya 1,9 persen penduduk yang masih mengalami kesulitan baca tulis, jauh menurun dari angka 10 persen pada tahun 2005. Ini merupakan capaian besar. Namun, persoalan literasi ternyata tidak berhenti pada kemampuan teknis membaca dan menulis saja.
Masalah yang lebih mendasar adalah banyaknya siswa yang bisa membaca, tetapi tidak memahami apa yang dibacanya. Ini adalah kritik yang tajam bagi dunia pendidikan. Sekolah selama ini terlalu menekankan aspek kognitif semata, tanpa memperhatikan aspek pemahaman dan aplikatif dari kegiatan literasi.
Idealnya, setelah membaca, siswa diajak untuk menceritakan kembali isi bacaan dengan bahasa mereka sendiri. Dari sana, mereka bisa diminta menulis ulang dalam bentuk ringkasan atau refleksi. Selanjutnya, yang lebih penting, siswa didorong untuk mempraktikkan nilai-nilai atau pesan dari apa yang mereka tulis. Inilah proses literasi yang sesungguhnya.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan proses berpikir kritis, reflektif, dan produktif. Literasi sejati memiliki tiga tujuan utama: mencerahkan pikiran, memperkaya wawasan, dan memberdayakan individu agar mampu mengambil keputusan dan bertindak secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Jika pendidikan ingin menghasilkan generasi yang cerdas dan berdaya, maka literasi harus dipahami dan dilaksanakan secara utuh: membaca dengan pemahaman, menulis dengan kesadaran, dan bertindak dengan nilai. Karena sejatinya, literasi bukan soal baca tulis—tetapi tentang bagaimana memahami, mengolah, dan menghidupkan makna dari setiap kata.





