Kasihan, Tidak Dipedulikan Pemda, Praja IPDN Asal Kepulauan Meranti Terlunta-lunta Mencari Dana

Praja IPDN asal Kepulauan Meranti, Ahmad Maulana bertemu Mahmuzin Taher yang membantunya biaya berangkat ke Papua/Net

SELATPANJANG (Beritadigi.com)- Seorang Praja IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) asal Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahmad Maulana mendapatkan tugas menjalani masa orientasi penyebaran pendidikan selama 1 tahun di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Berasal dari keluarga yang kurang mampu, membuat Ahmad Maulana agak kesulitan untuk memenuhi biaya transportasi menuju Bumi Cendrawasih itu.

Anak dari pasangan M Nasir dan Taslimah itu sempat terlunta-lunta mencari dana untuk biaya keberangkatan yang terbilang agak mahal. Dengan ditemani seniornya yang bertugas sebagai ASN di Pemkab Kepulauan Meranti, Ahmad Maulana pernah mengadukan keluh kesahnya kepada Bupati H Muhammad Adil SH MM.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati juga memberikan motivasi kepada Maulana untuk dapat mengikuti seluruh rangkaian pendidikan dengan penuh tanggung jawab dan diharapkan setelah lulus nantinya dapat mengabdi di Kabupaten Kepulauan Meranti yang saat ini sangat membutuhkan ASN yang profesional dan tangguh.

Sempat diminta untuk mengajukan proposal bantuan biaya pendidikan, namun setelah sekian lama berharap hingga kini tidak ada ujungnya. kepastian terhadap realisasi anggaran tersebut ternyata tidak ada.

“Saat itu ditemani senior, saya menghadap bupati untuk bersilaturahmi dan menceritakan segala keluh kesah saya terkait biaya pendidikan dan akomodasi. Selanjutnya disuruh mempersiapkan proposal, namun hingga kini realisasinya belum ada. Terakhir jawaban yang saya dapat, Pemkab belum bisa membantu, hal itu disebabkan bantuan biaya pendidikan sudah dipos kan di setiap Universitas dan Perguruan Tinggi yang dilakukan kerjasama,” tutur Ahmad.

Tidak hanya soal keberangkatan, Ahmad Maulana juga dihadapkan dengan persoalan lain. Walaupun biaya pendidikan dan konsumsi ditanggung oleh sekolah kedinasan dibawah Kemendagri itu, namun tidak untuk kebutuhan seperti biaya buku, transportasi lokal dan akomodasi.
“Walaupun biaya sekolah dan konsumsi ditanggung, namun tidak untuk biaya dan kebutuhan yang lain, seperti buku dan transportasi lokal. Belum lagi ke Papua yang ongkosnya sekitar Rp 4 juta termasuk biaya lainnya, ujar Ahmad.

Kebutuhan akan biaya sangat mendesak, karena waktu keberangkatan ke Papua yang semakin dekat. Ahmad Maulana yang mendapatkan saran dari seseorang langsung bertemu dengan ketua Yayasan Pesisir di Jakarta, yang juga pengusaha asal Kepulauan Meranti, Mahmuzin Taher.
“Setelah sekian lama, atas saran dari seseorang saya bertemu dan mendapatkan bantuan dari Pak Mahmuzin Taher, saya dibantu untuk biaya berangkat ke Papua .Saat ini sedang libur dan saya juga diizinkan tinggal dirumahnya di Jakarta, karena untuk pulang ke kampung belum punya uang,” ungkapnya.

Karena tidak mendapatkan subsidi pendidikan dari pemerintah daerah, selama menimba ilmu di IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Ahmad hanya mengharap kiriman dari keluarganya, dimana orang tuanya hanya bekerja sebagai petani karet.

“Selama pendidikan, saya hanya mengharapkan kiriman dari keluarga dari kampung, dimana ayah saya hanya bekerja sebagai petani karet. Namun kemarin dia mendapatkan kecelakaan kerja dan tangannya harus dijahit, saya jadi segan. Dengan kondisi ini saya berharap banyak kepada Pemda,” ungkapnya lagi.

Untuk diketahui, Ahmad Maulana berasal dari keluarga kurang mampu di Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahmad Maulana merupakan satu-satunya anak di Kabupaten termuda di Riau ini yang lulus tes masuk di IPDN. Berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu dengan ayah berprofesi sebagai petani karet, membuat dirinya nekat mengambil peluang tes.

Kendati demikian, walaupun dalam kondisi keuangan keluarganya yang serba minim tidak membuatnya patah semangat dan mudah menyerah pada keadaan. Dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari tanpa menyusahkan kedua orang tuanya, dulunya Ahmad Maulana bekerja sebagai satu kurir di salah satu jasa ekspedisi barang di Kota Selatpanjang. Itu dia lakukan semua demi untuk melanjutkan impiannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah mengikuti seleksi yang ketat akhirnya ia dinyatakan lulus di lembaga pendidikan tinggi milik pemerintah yang bergerak di bidang kepamongprajaan itu. Awalnya, Ahmad pernah mencoba mendaftar menjadi seorang Praja IPDN. Namun sayangnya, pada kesempatan pertamanya ini, Tuhan belum mengizinkan ia untuk menimba ilmu di Kampus Jatinangor. Kegagalannya ini, kembali tidak membuat dirinya patah semangat dan menyerah. Sambil bekerja, kata Maulana dirinya tidak putus asa untuk mengikuti perkembangan informasi penerimaan seleksi di IPDN.

Maulana menceritakan, dalam kesehariannya sebelum berangkat kerja dan sore harinya setelah pulang bekerja dilanjutkan berolahraga dengan melakukan Jogging dan pada malam harinya dimanfaatkan belajar dan mencari informasi seleksi penerimaan di IPDN.

“Sebelum pergi kerja dan setelah pulang kerja saya Jogging dan malam harinya saya manfaatkan belajar dan mencari informasi seleksi penerimaan di IPDN. Saya juga belajar melalui Youtube dan Instagram untuk membahas tahapan seleksi IPDN,” ungkapnya, dilansir dari halloriau.
Diceritakan, tahap awal seleksi IPDN, dari 900 an peserta yang mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) di BKN Provinsi Riau hanya 70 peserta yang lolos SKD dengan nilai tertinggi yang akan melanjutkan seleksi selanjutnya.

Selanjutnya, tahapan seleksi Psikotes, Maulana kembali dinyatakan lulus masuk bersama 34 peserta yang selanjutnya akan mengikuti tahapan pantukhir (pemantauan terakhir).

Disana ia harus mengikuti verifikasi faktual administrasi kemudian mengikuti tes kesehatan tahap II dengan menyelesaikan 566 soal jawab tes Kejiwaan dan wawancara.

Akhirnya pada tahun 2021, Ahmad Maulana dinyatakan lulus setelah menyelesaikan tahapan seleksi dan mendapatkan beasiswa tanpa biaya pendidikan sebagai calon Praja IPDN dari 26 putra putri terbaik mewakili Provinsi Riau yang akan melanjutkan pendidikan di IPDN Jatinangor.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *