PELALAWAN — Kobaran api dan kepulan asap masih menyelimuti sejumlah titik di wilayah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau. Di tengah medan yang sulit dan kondisi lahan yang rentan terbakar, upaya pemadaman karhutla dilakukan secara bersama-sama dengan mengerahkan kekuatan lintas instansi dan dukungan perusahaan.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo bahkan turun langsung ke lokasi pada Kamis (20/8). Keduanya memastikan penanganan karhutla berjalan cepat, terpadu dan tidak berhenti hanya pada pemadaman api.
Bersama jajaran Forkopimda, personel gabungan, serta unsur perusahaan, Kapolda dan Pangdam berada di lapangan untuk melihat langsung kondisi titik kebakaran sekaligus memastikan seluruh sumber daya dikerahkan secara maksimal.
Salah satu pihak yang ikut bergerak adalah PT Sari Lembah Subur (PT SLS).
Menariknya, kebakaran yang ditangani berada di luar areal perkebunan PT SLS dan cukup jauh dari wilayah operasional perusahaan. Namun kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi perusahaan untuk turun tangan.
PT SLS mengerahkan Regu Pemadam Kebakaran (RPK) lengkap dengan personel dan peralatan untuk membantu pemadaman.
Sebanyak 14 personel RPK PT SLS diterjunkan ke lokasi. Mereka diperkuat satu unit Pompa Mini Strike, empat unit Pompa Kohsin, enam nozzle TFT 1,5 inci, 12 roll hose 1,5 inci serta enam unit handy talkie (HT) untuk menunjang komunikasi dan koordinasi di lapangan.
Dukungan semakin diperkuat dengan satu unit excavator PC 200.
Alat berat tersebut tidak hanya digunakan untuk membuka akses menuju lokasi, tetapi juga membantu membuat kantong-kantong air di sekitar area kebakaran. Keberadaan kantong air menjadi sangat penting untuk mendekatkan sumber pasokan air dengan titik api sekaligus membantu proses pemadaman dan pendinginan.
Di lapangan, tim PT SLS bekerja berdampingan dengan personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah dan unsur lainnya.
Bagi PT SLS, keterlibatan tersebut bukan sekadar membantu memadamkan api. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekaligus wujud nyata semangat gotong royong menghadapi ancaman karhutla.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan, karhutla bukan persoalan yang bisa diselesaikan oleh satu institusi.
“Karhutla tidak bisa ditangani sendiri-sendiri. TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, perusahaan dan masyarakat harus berada dalam satu gerak. Prinsipnya, begitu terdeteksi ada titik api, kita harus cepat datang, cepat memadamkan dan memastikan tidak terjadi kebakaran ulang,” ujar Herry.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut bergerak, termasuk perusahaan yang secara aktif membantu penanganan karhutla di lapangan.
Menurut Herry, kecepatan merespons titik api menjadi salah satu kunci utama. Kebakaran harus ditangani sedini mungkin agar tidak berkembang menjadi lebih luas, terutama di kawasan dengan karakteristik lahan yang mudah terbakar.
Green Policing: Menjaga Lingkungan dengan Kolaborasi
Semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan konsep Green Policing yang terus dikembangkan Polda Riau.
Pendekatan ini tidak hanya menempatkan kepolisian sebagai penegak hukum, tetapi juga mendorong keterlibatan berbagai elemen dalam menjaga lingkungan.
Mulai dari pencegahan, edukasi, patroli, deteksi dini, penegakan hukum hingga kolaborasi dengan perusahaan dan masyarakat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Bagi Kapolda, menjaga lingkungan pada akhirnya juga berarti menjaga keselamatan masyarakat.
Karena itu, keberadaan perusahaan di lapangan dinilai memiliki arti penting. Perusahaan memiliki personel, peralatan pemadaman, sarana pendukung serta pengetahuan terhadap karakteristik wilayah yang dapat digunakan untuk memperkuat respons ketika terjadi kebakaran.
Termasuk ketika api muncul di luar areal perusahaan.
Hal senada disampaikan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo.
Menurutnya, kondisi lapangan membutuhkan kekuatan terpadu tanpa sekat antarinstansi.
“Kami memastikan personel di lapangan tetap bekerja bersama dan saling mendukung. Kondisi seperti ini membutuhkan kekuatan terpadu. Tidak ada sekat TNI, Polri maupun instansi lainnya ketika yang kita hadapi adalah ancaman terhadap masyarakat dan lingkungan,” kata Agus.
Ia turut mengapresiasi seluruh personel gabungan yang tetap bekerja di tengah kondisi medan yang tidak mudah.
Bukan Sekadar Datang Saat Api Membesar
Keterlibatan PT SLS dalam penanganan karhutla di Kerumutan bukanlah aksi sesaat. Perusahaan telah membangun kesiapsiagaan untuk menghadapi potensi kebakaran sejak jauh hari.
Memasuki periode dengan risiko kebakaran tinggi, PT SLS secara rutin memperkuat kesiapan RPK, memastikan seluruh peralatan dalam kondisi siap digunakan, melakukan patroli dan pemantauan serta membangun koordinasi dengan pemangku kepentingan di sekitar wilayah operasional.
Kesiapsiagaan tersebut tidak hanya ditujukan untuk melindungi areal perusahaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem pencegahan bersama.
Ketika kebakaran terjadi di luar wilayah operasional, sumber daya yang dimiliki perusahaan pun dapat dikerahkan untuk membantu penanganan sesuai kebutuhan di lapangan.
PT SLS juga melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan melalui penguatan Masyarakat Peduli Api (MPA), patroli bersama, edukasi bahaya karhutla serta peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dan pemuda.
Sebab, pencegahan karhutla tidak mungkin hanya mengandalkan tim pemadam perusahaan maupun pemerintah.
Masyarakat di sekitar wilayah rawan juga harus memiliki kemampuan untuk mengenali potensi kebakaran sejak dini dan memahami langkah yang harus dilakukan ketika api mulai muncul.
Kesiapsiagaan tersebut sebelumnya juga terlihat pada Juli 2026. Tim RPK PT SLS turut membantu pemadaman kebakaran lahan di Dusun Pematang Tengah, Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan.
Kebakaran itu juga terjadi jauh dari areal perkebunan PT SLS. Namun perusahaan tetap mengerahkan personel dan peralatan untuk membantu proses pemadaman.
Community Development Officer (CDO) PT SLS, Ginanjar Maolid, mengatakan perusahaan berupaya memastikan sumber daya yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk mendukung penanganan karhutla bersama seluruh pihak.
“Prinsip kami adalah hadir terdepan ketika ada kondisi yang membutuhkan dukungan. Walaupun kebakaran terjadi di luar areal perusahaan, personel dan peralatan kami kerahkan untuk memperkuat penanganan di lapangan. Ini adalah kerja bersama untuk menjaga lingkungan dan masyarakat,” ujar Ginanjar.
Menurutnya, pembuatan kantong-kantong air dengan dukungan alat berat menjadi salah satu langkah penting untuk membantu tim pemadam.
Selain mendekatkan akses terhadap sumber air, keberadaan kantong air juga diharapkan mempermudah proses pemadaman sekaligus pendinginan sehingga potensi munculnya kembali titik api dapat ditekan.
Api Dipadamkan, Kolaborasi Harus Tetap Menyala
Bagi PT SLS, kolaborasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat bukan hanya diperlukan ketika api sudah membesar.
Kerja sama justru harus dibangun sejak tahap pencegahan.
Dengan demikian, setiap pihak mengetahui peran masing-masing dan dapat bergerak cepat ketika situasi darurat terjadi.
Semangat tersebut sejalan dengan prinsip Green Policing yang menempatkan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Di Riau, persoalan karhutla bukan sekadar persoalan api. Dampaknya menyentuh kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi hingga kualitas lingkungan.
Karena itu, semakin banyak pihak yang terlibat sejak dini, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas.
Sebagai bagian dari PT Astra Agro Lestari Tbk, PT SLS terus memperkuat kesiapsiagaan dan kolaborasi dalam menghadapi ancaman karhutla.
Mulai dari penguatan sumber daya manusia, kesiapan sarana dan prasarana, patroli, pembinaan masyarakat hingga dukungan langsung dalam pemadaman ketika kebakaran terjadi, termasuk saat titik api berada di luar areal perkebunan.
Bagi perusahaan, menjaga lingkungan bukan pekerjaan yang selesai ketika api padam.
Menjaga lingkungan merupakan proses panjang yang membutuhkan kesiapan, kepedulian dan kemauan untuk bergerak bersama.
Melalui semangat “Sinergi Bumi dan Manusia untuk Satu Indonesia”, PT Sari Lembah Subur berkomitmen terus mengambil bagian dalam menjaga lingkungan sekaligus mendukung keselamatan masyarakat melalui kolaborasi dan aksi nyata di lapangan.





