Oleh: Amirullah Syahruddin
(Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kampar)
Kabupaten Kampar, dengan kekayaan sejarah dan budaya yang terpendam, kini berada di garis depan upaya pelestarian warisan yang terus berkembang. Dewan Kesenian Kampar (DKK) berkomitmen menghidupkan kembali warisan budaya daerah melalui lima cabang seni utama: sastra, film, teater, tari, dan seni rupa. Setiap cabang seni ini membawa misi yang sama, yakni memperkenalkan kembali identitas budaya Kampar kepada generasi muda sekaligus mengukir sejarah baru yang kaya akan nilai tradisi.
Membangun Kampar dengan Bahasa dan Tradisi
Bahasa adalah akar dari identitas budaya. DKK melalui program sastra berfokus pada penggalian kembali tradisi lisan, penulisan sastra lokal, dan penyusunan kamus bahasa Kampar sebagai upaya menjaga dan melestarikan bahasa yang kian memudar. Salah satu program unggulan adalah kajian dan pengumpulan data kebudayaan melalui bang data kebudayaan Kampar yang mendokumentasikan tradisi dan seni yang hampir hilang.
Selain itu, DKK juga menggali kembali kearifan lokal seperti pembuatan detau (destar) atau ikat kepala khas Kampar yang sarat makna dan nilai budaya. Kami menargetkan agar generasi muda mengenali kembali identitas budaya mereka melalui pendidikan muatan lokal yang mengupas seni tradisi Kampar, seni tradisional, serta penciptaan simbol-simbol adat yang bisa menjadi bagian dari kurikulum pendidikan di masa depan.
Film: Menghidupkan Kembali Koto yang Tenggelam
Di bidang film, DKK merencanakan pembuatan film layar lebar yang mengangkat cerita tenggelamnya puluhan Koto (desa) di 13 Koto Kampar akibat pembangunan PLTA Koto Panjang. Kisah ini bukan sekadar sejarah kelam, melainkan potret kehilangan budaya dan pemindahan paksa komunitas yang kaya akan tradisi. Film ini diharapkan menjadi salah satu karya monumental yang membuka mata banyak orang tentang pengorbanan budaya di balik kemajuan teknologi. Dengan film layar lebar, kami mengupayakan budaya Kampar tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga diakui secara nasional dan internasional.
Teater: Menggali Kisah Situs Peradaban dan Tradisi
Bidang teater dalam DKK mengembangkan naskah-naskah yang menggali kisah peradaban kuno dan situs-situs bersejarah seperti Muaratakus. Selain itu, teater juga akan menampilkan cerita-cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, cerita yang penuh dengan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur. Melalui panggung teater, sejarah dan tradisi Kampar dapat dihidupkan kembali dan dinikmati oleh masyarakat luas. Teater tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pelestarian budaya.
Tari: Melestarikan dan Mengembangkan Tradisi
Di bidang tari, DKK berkomitmen mempertahankan tari Pasombahan, tarian penghormatan yang berakar dari tradisi silat, sebagai salah satu identitas budaya Kampar. Selain itu, kami juga terus menggali dan mengembangkan karya-karya tari tradisional lain yang berakar dari seni bela diri dan budaya lokal. Melalui tari, generasi muda Kampar diharapkan dapat terus mengenali dan menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Seni Rupa: Mengukir dan Melestarikan Warisan Tradisi
Seni rupa juga memainkan peran penting dalam menjaga tradisi. DKK berfokus pada pelestarian anyaman tradisional Kampar yang memiliki nilai seni tinggi dan simbol kearifan lokal. Selain itu, seni rupa juga akan mengukir kembali sejarah dan tradisi Kampar melalui relief-relief yang menggambarkan kehidupan masyarakat tempo dulu, serta melukiskan tradisi dalam bentuk visual yang dapat dinikmati oleh masyarakat masa kini dan mendatang.
Program Unggulan: Bang Data Kebudayaan dan Simbol Identitas yang Berakar Dari Tradisi
Program unggulan DKK yang lain adalah mewujudkan bang data kebudayaan yang akan menjadi pusat data bagi seluruh tradisi, seni, dan adat yang ada di Kampar. Data ini nantinya akan menjadi acuan bagi penelitian dan pengembangan kebudayaan di Kampar, serta dasar untuk memasukkan muatan lokal dalam sistem pendidikan. Kami juga berupaya menciptakan simbol-simbol adat dan tradisi yang dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kampar.
Selain itu, DKK juga fokus pada pelestarian alat musik tradisional Kampar seperti gambang. Program Sejuta Gambang yang di gagas akan memastikan bahwa alat musik tradisional ini tetap hidup dan dimainkan oleh generasi muda, sebagai simbol kekayaan budaya musik daerah yang harus dilestarikan.
Kesimpulan
Melalui lima cabang seni ini—sastra, film, teater, tari, dan seni rupa—DKK berkomitmen untuk menghidupkan kembali, melestarikan, dan mengembangkan tradisi serta identitas budaya Kampar. Dengan program-program unggulan seperti bang data kebudayaan, simbol adat, serta Sejuta Gambang, kami yakin bahwa Kampar akan tetap menjadi pusat budaya yang kokoh dan dikenal luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di panggung internasional.
Panggung Seni
Menjadi target spot pelestarian dan pengembangan tradisi dan tempat yang menjaga etika berkesenian.
Anggaran DKK
Memastikan sistem penganggaran DKK dengan lahirnya Peraturan Bupati (Perbub) jika perlu perda.
Dengan langkah bersama, mari kita satukan visi dan ukir sejarah baru bagi Kampar yang lebih beradat.
