Oleh: Amirullah Syahruddin
(Ketua Yayasan Matankari, Penggiat Budaya Kemendikbud)
Sepak terjang seorang Rusli Zainal (RZ) sangat memesona. Rusli Zainal lahir pada 3 Desember 1957 di Inhil. Walau mantan Qori terbaik nasional asal Tembilahan ini RZ masih dalam tempat “peristirahatannya” Lapas kelas II Pekanbaru, namun jangan disangka sinar pengaruh politiknya makin berkurang. Malahan semakin mempesona untuk semua kalangan, baik yang kontra apalagi yang pro RZ. Terutama balon kepala daerah di Riau.
Di mulai dari pertarungannya pada pemilihan Gubernur Riau periode pertama 2003 silam, RZ berhasil mendapatkan dukungan dari kursi PPP waktu itu, yang menjadi wakilnya adalah Wan Abu Bakar. RZ sebelumnya adalah mantan Bupati Inhil satu periode merupakan ketua Golkar Inhil ketika itu. Dengan mulus RZ malenggang menjadi Gubri pada tahun 2003 melalui pemilihan lansung perwakilan DPRD Riau.
Se-gunung prestasi telah di raih nya untuk membangun Riau, sebut saja Islamic Center masjid Agung Annur, hingga keberhasilan PON 2012 di Riau berikut venue-venue yang membanggakan Riau dan iven2 fenomenal lainnya. Pesona RZ seakan tidak pernah pudar, bahkan serangkaian helat politik sewaktu beliau di dalam penjara pun, hampir seluruh balon kepala daerah baik kabupaten kota apatah lagi balon Gubri berdatangan ke penjara menbezuk. Dengan dalih silaturahim balon-balon bupati, walikota dan balon Gubri semuanya berdatangan meminta nasihat dan restu politik kepadanya.
RZ juga dalam melakukan pembangunan membuat program K-2i yang sulit hilang dalam ingatan masyarakat Riau. Walaupun sudah ada visi riau 2020 ketika itu. Aura kuat sebagai tokoh dan pengendali politik ini sudah terlihat sejak beliau menang menjadi Gubri 2003 dan selanjutnya merebut kursi ketua DPD partai Golkar Riau dari tangan Ramlan Zas bupati Rokan Hulu ketika itu.
Sebagai alumni teras pengurus KNPI Propinsi Riau tentu lah sangat muda bagi RZ untuk melakukan berbagai monuver politik untuk tingkat lokal maupun nasional. Sampai akhirnya RZ memimpin Riau. Dan selanjutnya RZ menjadu Koordinator Gubernur se Sumatera. Saat ini RZ memang tidak pernah muncul ke permukaan, tentu saja dia lebih memilih jalan sunyi, sebagai tokoh di balik layar yang bagaikan maqnet bagi balon kepala daerah. Itu semua disebabkan kecerdasan RZ dalam meramu seluruh kepentingan dengan baik.
RZ memiliki segudang prestasi dan kemampuan lobi yang telah dibangun sejak dini menjadi mahasiswa hingga gubernur dan RZ sempat digadang-gadangkan akan menjadi menteri, sayang memang itu tak terwujud. Namun itu bukan mengurangi performa RZ di mata balon kepala daerah.
Walaupun antara RZ dan Wan Abu Bakar pernah harmonis sewaktu pencalonan Gubri, yang diantar mulus menjadi Gubri oleh PPP Riau yg dipimpin Wan Abu Bakar ketika itu. Hal inilah agaknya yang membuat gap politik tokoh senior PPP Riau itu dan menjadi tidak harmonis lagi dengan RZ. Sebab, dengan alasan politik, RZ tentunya setelah duduk menjadi Gubri, langsung memimpin Ketua DPD Golkar Riau. Tentulah kondisi ini merugikan PPP yang telah menyerahkan kuasanya kepada RZ.
Gambaran serupa perseteruan politik ini kembali tergambar dengan jelas saat ini. Walaupun gubernur Syamsuar adalah ketua Golkar Riau saat ini, hampir meniru serupa manuver RZ ketika itu, namun tentu ada lebih dan kurangnya Syamsuar meninggalkan PAN dan PKS yang telah mengusungnya sebagai Calon Gubernur. Hal lainnya yang membuat penguasaan politik Syamsuar pada Golkar tergolong lemah, hal tersebut dipandang banyak pengamat politik. Di samping Syamsuar di pandang tidak memiliki visi dan misi yang akurat, Syamsuar juga dinilai lamban dalam komunikasi politik. Terbukti beberapa kali Syamsuar kecolongan dalam memajukan orang-orangnnya menjadi Kepala SKPD dan parahnya lagi dalam hal penunjukkan Pj Bubati Kampar dan Pj Walikota Pekanbaru baru-baru ini. Tiga nama Penjabat (Pj) Walikota Pekanbatu dan Pj Bupati Kampar lepas begitu saja.
Ada tangan luar biasa yang mampu menghilangkan nama yang diusulkan secara formalitas serta yang menjadi hak prosedural ubernur untuk membantunya dalam membangun Riau dan kembali Syamsuar menuai kegagalan.
Sudahlah dipandang lemah dan tidak memilki visi dan misi juga ditambah lagi lamban dalam komunikasi politik. Untuk itulah tokoh senior PPP Wan Abu Bakar lansung turun gunung, Wan lansung terjun ke jantung politik kebudayaan di daerah. Kasak kusuk Wan Abu Bakar menjembatani LAM Riau dengan Gubri Syamsuar versi Mubeslub ini sangat kentara dilihat.
Kisruh LAMR yang dimediasi Wan Abu Bakar dengan gubernur Syamsuar menuai banyak protes. Walapun akhirnya pelantikan pengurus LAM versi Mubeslub di Balai Serindit Gubernur tetap dilangsungkan. Lagi-lagi gubernur Syamsuar dinilai salah mengambil langkah. Perpecahan lembaga Adat ini tentu menjadi batu sandungan bagi Syamsuar kedepannya. Setidaknya dua tahun kedepan helat Pilgubri akan berlaku. Sementara itu sudah terjadi setidaknya ada dua gelombang besar yang sedang bersiteru di dalam masyarakat adat di Riau. Dan membuat citra lembaga yang mengurus adat ini semakin jauh di hati masyarakat adat.
Disinilah khallayak ramai melihat dan menilai siapa figur dan sosok calon Gubri yang layak dan visioner kedepan. Masalah visi dan misi Riau 2020 yang telah berlalu, walaupun dilanjutkan dengan nama RPJM setiap 5 tahunnya. Ini tentu akan terlhat arah pembangunan yang tidak terkendali dan tak terarah.
Semua mata sedang melihat dan memantau, siapa di balik semua intrik politik yang tengah terjadi, bagi penulis, siapapun itu, penulis belum melihat arah negeri yang bernama Riau ini ke arah yang jelas, baik di bidang ekonomi, pendidikan politik, bahkan di bidang Budaya (adat).
Setidaknya provinsi pecahan dari Provinsi Sumatera Tengah pada tahun 1957 ini memiliki beragam adat dan budaya. Adatnya Matriakhat (matrilinial) dan Patriakhat (patrilinial). Dua-duanya memilki mempunyai simbol dan garis yang tidak sama, tentu saja yang mampu memahami ini akan lebih mudah memainkan peranannya untuk membangun, intinya, jangan ada pemaksaan indentitas, biarkanlah keragaman ini menjadi rahmat bukan kiamat. Maka pembangunan akan sangat mudah dilakukan siapapun pemimpinnya.
Bahwa Wan Abu Bakar sedang turun gunung. Dan tentu saja ini membuat suasana riak politik di Provinsi Riau semakin riuh dan semakin menarik. Walaupun tokoh yang menjadikan kebudayaan sebagai panglima dan ruh pembangunan belum kelihatan. Negeri ini negeri beradat, sudah sepatutnya yang memimpin provinsi ini dari kalangan orang yang memahami keberagaman adat itu.
