SELATPANJANG (Beritadigital)-Mahalnya harga dan langkanya stok bahan baku Tepung Sagu membuat sejumlah UMKM memilih untuk tidak berproduksi.
Hal tersebut di ungkapkan salah seorang pelaku usaha di Selatpanjang, Darmizun. Dia mengatakan, saat ini sudah hampir seminggu ia tidak membuat Mie Sagu.
“Saya sudah hampir seminggu tidak produksi membuat Mie Sagu. Harga tepung yang mahal membuat kami tidak sanggup lagi, untuk itu stop dulu sementara waktu, walaupun sagu ada jika kerja tak ada untung macam mana mau kerja,” kata Darmizun, Senin (11/4/2022).
Ketua Asosiasi Meranti Bersagu yang bergerak di bidang olahan khusus mie sagu ini juga sangat menyesalkan sikap para pengusaha kilang sagu yang terkesan tidak berpihak kepada sektor UMKM.
“Kemaren kita pelaku UMKM sudah melakukan rapat bersama dengan pemilik kilang yang difasilitasi oleh pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Mereka berjanji stok sagu tidak akan putus, namun hingga saat ini masih juga langka, selain itu harganya juga semakin naik,” ungkap Darmizun.
Saat ini para pelaku UMKM yang tergabung kedalam asosiasi tersebut berencana menaikkan harga jual Mie Sagu, langkah ini dibuat agar tidak merugi. Dimana harga jual yang akan disepakati adalah Rp 9 ribu perkilogram.
Berbeda dengan Pelaku UMKM lainnya, Giarti menyatakan bahwa dirinya sudah duluan menaikkan harga jual Mie Sagu Rp 9 ribu perkilogram, hal itu menyikapi harga Tepung Sagu yang kian hari semakin melambung tinggi.
“Saya masih tetap produksi, namun harga jual sudah dinaikkan jadi Rp 9 ribu perkilogram. Jika untuk pasar dalam daerah tidak ada masalah, namun untuk permintaan di luar mereka keberatan dengan harga segitu, ya terpaksa saya hentikan dulu permintaan mereka, karena harga Sagu nya memang sudah mahal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi Mie Sagu, ternyata tidak semua Tepung Sagu yang bagus, namun ada jenis dan merek tertentu saja yang bisa dijadikan adonan. Untuk mengantisipasi hal itu, Giarti melakukan campuran Tepung Sagu merek lain dengan merek yang biasa ia gunakan.
“Untuk Tepung Sagu yang biasa saya gunakan sudah dibatasi pembelian nya yakni hanya dua karung perhari, sementara produksi saya hampir 200 kilogram, untuk itu saya mengakalinya dengan membuat campuran Tepung Sagu merek lain,” ujarnya.
Sementara itu salah satu pengusaha kilang Sagu, Abi mengungkapkan jika pihaknya masih kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar Cirebon. Untuk pasar dalam daerah, ia membagikan kuota terbatas hanya dua karung perhari bagi setiap pelaku UMKM.
“Saat ini kita tengah fokus untuk memenuhi permintaan di Jawa karena mereka sudah bayar sejak lama. Saat ini kenapa harga mahal karena disana harga jual sudah mahal belum lagi biaya angkut dan upah buruh,” ungkapnya.
“Untuk UMKM kita sudah bagi kuotanya dua karung setiap orang, namun kemaren malah ada yang borong, kita tak bisa berbuat banyak,” ungkapnya lagi.
