Selama ini, kita sering mendengar ungkapan “Adat bersandikan syara’, syara’ bersandikan Kitabullah.” Namun, ungkapan ini sebenarnya keliru, baik secara bahasa maupun makna filosofis. Yang benar adalah “Adat basondikan syara’, syara’ basondikan Kitabullah.” Perbedaan antara “sandi” dan “sondi” sangat penting karena mengubah makna mendasar dari ungkapan tersebut, terutama dalam konteks adat ibu atau matrilineal.
Perbedaan Makna: “Sandi” dan “Sondi”
Sandi adalah kata yang berarti password atau kode rahasia. Jika kita menggunakan ungkapan “adat bersandikan syara’,” ini akan memberi kesan bahwa syariat hanyalah semacam kunci atau kode untuk memahami adat, padahal ini bukan yang dimaksud dalam filosofi adat matrilineal.
Sebaliknya, sondi adalah kata yang berarti penopang atau penyangga tiang rumah. Dalam sistem adat ibu, “basondikan” menggambarkan konsep bahwa adat ditopang oleh syariat, seperti bagaimana tiang rumah adat disangga oleh penopang agar kokoh berdiri. Ungkapan “Adat basondikan syara’, syara’ basondikan Kitabullah” menyiratkan bahwa adat bersandar pada syariat, dan syariat sendiri bersandar pada ajaran Kitabullah (Al-Quran). Ini adalah hubungan yang saling menopang dan mengokohkan, bukan hubungan yang hanya bergantung pada sebuah ‘kunci’ atau ‘kode’.
Filosofi “Basondikan” dalam Adat Matrilineal
Kata “basondikan” lebih tepat menggambarkan hubungan antara adat dan syariat. Dalam masyarakat yang menganut adat matrilineal, adat tidak berdiri sendiri, melainkan selalu tunduk dan selaras dengan syariat Islam. Adat yang tidak sesuai dengan syariat dianggap tidak sah. Oleh karena itu, ungkapan “Adat basondikan syara’, syara’ basondikan Kitabullah” menunjukkan keterikatan kuat antara adat dengan ajaran Islam, dengan syariat sebagai penopang utama adat, dan syariat sendiri bersandar pada Kitabullah.
Dampak Kesalahan Penggunaan “Sandi”
Kesalahan dalam penggunaan kata “sandi” bisa membawa pemahaman yang menyimpang. Kata sandi merujuk pada sesuatu yang bersifat tersembunyi, seolah-olah adat dan syariat terpisah dan hanya dapat dipahami melalui semacam kode rahasia. Padahal, dalam kenyataannya, adat ibu atau adat matrilineal tidaklah bersifat tersembunyi atau rumit untuk dipecahkan, melainkan jelas dalam hubungan mereka satu sama lain. Adat dijalankan berdasarkan syariat, yang terang dan terbuka, seperti halnya penyangga rumah adat yang terlihat dan kokoh menopang bangunan.
Meluruskan Makna yang Benar
Penggunaan kata “basondikan” dalam ungkapan yang benar memberikan pemahaman yang jauh lebih dalam dan tepat. “Adat basondikan syara’, syara’ basondikan Kitabullah” menggambarkan bahwa adat ibu atau adat matrilineal selalu mengikuti dan ditopang oleh syariat Islam, dan syariat itu sendiri bersumber dari Kitabullah. Dengan demikian, adat dijalankan sesuai dengan pedoman agama, dan tidak pernah bertentangan dengan ajaran Islam.
Penutup
Ungkapan yang benar adalah “Adat basondikan syara’, syara’ basondikan Kitabullah”. Hal ini menggambarkan keseimbangan yang kuat antara adat ibu atau adat matrilineal dengan agama, di mana adat bersandar pada syariat, dan syariat bersandar pada Kitabullah. Dengan memahami makna yang benar, kita dapat menjaga kekayaan budaya dan nilai-nilai adat yang tetap selaras dengan ajaran agama, sebagaimana yang telah diwariskan oleh leluhur kita.
